Posts

Permata

Salahkah bila berdoa Dalam dekapan sang anggur Tersampaikankah jika meminta Pada balut suci alkohol Masih mungkin Karena Ia maha baik Pun mengerti keadaan Kau harap pula kita bernyanyi Hingga nada-nada penuhi ruang Serupa insan surga Lembut kening itu Tiada pernah sudah Keharuman hinggap Baluri tubuhmu Jangan pulang Jangan pernah pulang Jedalah malam ini Ketika nada usai Aku tahu Bahwa dalam benakmu yang diam Kau merindukan kecupan Seperti kau rindu beribu ucapan Keberadaanmu hanya lima menit dari gubukku Yang penuh cakrawala Maka tinggalah di sini Tinggalah lama Hingga sisa nafas kita Menuju akhir engah 02-Mei-2024

Utopia

Bukankah indah Melihat surya mekar dalam peluk kicau benda alam Di depan taman yang kau konsep dengan gaya Eropa   Menyaksikan gadis kecil tumbuh dengan ceria Penuh tanya belajar bahasa   Bukankah indah Kau kan buatkan aku sarapan kesukaan; Kuah gedi x tahu tempe goreng extra sambal terasi Kau beli langsung dari pabrik kampung sebelah   Bukankah indah Hangat rumah kayu minimalis kita Sebagai hadiah setelah menikah Yang ku buat bersama salah seorang rekan setia Ito Mamahit. Si tampan yang cekat dalam soal pertukangan .... Setelah kopi gula merah habis Aku berangkan ke sawah Menyaksikan pekerja menabur pupuk Sambil memberi kabar Pepadian sehat sentosa Juni nanti Panen melimpah .... Kita nikmati setiap sunset yang datang Sambil mendengar lagu-lagu kesukaan Kau `kan sambut aku pulang Selepas melaksanakan tugas sebagai Kepala Desa   Menertawai amarahmu yang jarang keluar Kala little Rocky, jagoan sulung kebanggaan pulang bermain layangan Hingga petang tua Ia akan terbirit...

Matahari Tak Mampu Memeluk Kesedihan

Mereka yang lapar tidak punya cukup waktu buat patah hati Tidur berselimut kepinding Alas rayap sanggah harapan Matahari tak mampu memeluk kesedihan   Juli sengsara Dan seorang Ibu mengharapkan pemakaman terindah Di hari persalinannya Keranda kecil Adalah yang terberat Matahari tak mempu memeluk kesedihan   Berbahagialah ia yang lapar dan haus akan kebenaran Karena merekalah yang empunya kerajaan sorga Meski di Bumi Tulang retak-retak Dan matahari tak mampu memeluk kesedihan

Creatio Ex Nihilio et The Man In The Arena et Vox Populi Vox Dei

Its really tickling how small things can change the history and fate. Started with a weekend talks in front of the coffe-table with a calmness view in front of the door then now here you are; Standing between the others in village politics contestation. It might be a little thing for the giants and elite who doesn’t give a shit with all the public needs in our place, it might be just a dance-dance euphoria for the citizen who had an apatism behavior, but that was not you. That was not always you;   you are the middle-class one with brain, heart and bones.   And those tools was always very enough for creating a leader. I had some friend that once said: a lot of people fight for became the number one, but some people born to be the underdog. it reminds me about the story of The Foxes, Leiceister City, middle class ex-promotion football club that won English Primier League in season 2015/2016 without anyone predict it first. Trully a f*ckin great phenomenon. Anything can be hap...

Him

Saya tahu bahwa esok atau tahun nanti saya kehilangan kau Dan hampir pasti akan menangis Seperti matamu satu-satunya buah yang basah melihat tidur tubuh pria tua Dahulu pernah kau buat jatuh penuh amarah  Bahkan saat tangannya masih kuat berurat Sekalipun keliru sering kau ramu Tak pelak perihal buruk saja padamu Saya terlambat paham bahwa keringat yang tak nampak bisa jadi adalah upaya ujung darah Kau hanya letih dan rindu menggapai angin Bermain dayu-dayu Menunggu waktu menarik jatuh rambut satu-satu Bersama benda-benda jerih payah Pialamu paling megah Juga kawanmu korek api Dan hembus melayang putih-putih 16 Juni, 2021

Perihal Yang Paling

Ciuman paling jujur adalah yang terjadi di bandara daripada ruang pernikahan Doa paling tulus adalah doa orang di balik dinding rumah sakit 23 Mei 2022

A Farewell To Arms

The first thing that I learned from him is how to shape some stone which after that I knew as ‘Batu Akik’ with a grindstone. Hearing every single thing from his voice about his military experience in Congo with overwhelmed expression, especially during the part he recounted, “I jumped out of a plane and landed with a parachute.” How memorable thing he’d carve - how my imagination goes to the places I've never been. But love story had always been my favorite. Things about riding classic scooter in East Java’s streets that they called as ‘cuma keliling-keliling’ with his beloved one. They were just a young couple at that time and painful things as a flavour of a love story when their second son always got sick time after time, about how his wife should be selling cake cause his salary was not sustainable enough to endure the living cost when he has far far away in Dili, Timor Timur. During family time, with one kretek cigarette in his left hand, we’ve sung several Keroncong songs as ...