Posts

Showing posts from 2017

Kedip Terakhir

Matamukah kitab tak berujung Telah lama bersua Tidak usai terbaca Waktu berjalan tak ku hitung Liang terlanjur sedekat senjakala Tanda tanda masih bertanya Kedip terakhir sudah menyapa Remboken, 17 Desember 2017, 21:12 PM

Semoga Kita

Bukan hanya sekedar tatap mata yang sejenak bersua Kemudian bersudah Manado, 27 November 2017, 10:47 PM

Kala Lenggang

Aku memikirkanmu kala lenggang Kau selalu seperti pelita yang terang Tenang sedari petang Meski kadang lekang kala siang datang Atau sinarnya hilang dibawah gantang Pemikiran kala lenggang teramat membuat senang Terlewatkan rasanya sayang Remboken 23 Oktober 2017, 00:57 AM

Dan Tetap

Suatu ketika nada akan bernaung dalam simfoni yang meliuk reduh reda Hembus nafas terbawa angin barat lambat laun pergi membawa jatuh serta dedaunan Segalanya menjadi jelas Aku akan ada disana mendekapmu Akan tiba manakalah jarak bersua dengan rindu Atau detik tak berdekatan lagi dengan waktu Aku akan memelukmu dan berkata segalanya bisa saja jadi tak jelas Namun aku akan Dan tetap Remboken, 23 Oktober 2017, 00:9 AM

Sebuah Ketidaksiapan

Telah tiba purnama kesekian Tanggal waktu menanti kapan Sepatah dua patah kata tak kunjung terucapkan Tetap saja tertahan Menari-nari di antara keresahan Dan sebuah ketidaksiapan Remboken 23-10-2017, 00:23 AM

Jika Nanti

Jika nanti kau tak tergapai Jangan hiraukan Rumput juga harapkan basah Namun bila hujan tak turun Ia tak marah Jika nanti kau tak terkejar Berlalu saja Rumput kering rapuh sendiri Hujan hening lalu sendiri Jika nanti kau tak  tergenggam Kamu lalu saja Aku rapuh saja Sudah Tidak mengapa Remboken, 8 Oktober 2017, 20:15 PM

Potretmu

Berlama-lama duduk di ruang ini Bermain tatap dengan potretmu Tanpa kata Malam tertangkap pejam Hening Hanya senyum dalam potret Serta damai yang tak sengaja kau sertakan di sela-selanya Manado, 14 September 2017, 3:1 AM

Dua Sisi Mengasihi

Ia mengasihimu dengan sepotong donat Aku mengasihimu dengan kasih Tuhan Silahkan memilih

Matamu

Berilah kedipanya meski hanya sedikit Menari-nari di antara kantung atau lipatan terdalam sekalipun Rembulan redup namun sinarnya jadi penuntun pulang Manakalah kehidupan terasa muak, tolonglah jadikan ia pemanis Matamu Pernah kudengar tingkat bahagia paling puncak Tuhan menciptanya kala di titik itu Pantas saja Matamu Aku damba sejak tatap pertama Yang ku cinta tanpa ada keragu-raguan Bukan karena ia terang Bukan karena ia manis Karena ia milikmu Manado, 14 September 2017, 2 : 25 AM

Aku Hanya Menyukaimu Kadang - kadang

Aku hanya menyukaimu sekedarnya Aku menyukaimu tidak selalu Aku menyukaimu kadang kadang Kadang bila hanya dirimu tersenyum Kadang bila hanya dirimu menyapa Kadang bila hanya dirimu lewat saja Aku tidak menyukai seutuhnya dirimu Cuma kadang - kadang Kadang hanya kantung mata saja Kadang hanya helai rambut saja Kadang hanya gerak kaki saja Aku tidak memikirkanmu selalu Hanya kadang kadang Kadang di antara hujan petang Kadang hanya kala kemarau juni Kadang hanya di gerimis senja Aku hanya menyukaimu kadang - kadang Kadang - kadang Selalu Selamanya

Rasaku

Apakah yang lebih tinggi dari titik tak terhingga Nama rasa pun jauh di atas tingkatan rindu Rindu paling ujung hingga luar tapak batas Jauh menuju pergi Melaju temukan makna   Rasaku ini belum bernama Kamu namakan saja

Biarlah

Biarlah… Biarlah   aku merindukan kamu saat jauh atau   biarlah merindu saat dekat namun terasa jauh Biarlah aku menatap malu ketika kelak berpapasan tanpa sepenggal sapa Biarlah stalking sore menjadi obat penat akan rutinitas yang enggan bersahabat Biarlah aku mengagumi seutuhnya dirimu dari kantung mata hingga ke tulang-tulang Biarlah aku mengintip senyum itu dari bilik jendela kelas kala lenggang senyum yang tak satu pun metafora mampu menandinginya Kemudian... Tetaplah mengagumkan dan manis seperti senja yang cahayanya kemerahan itu Yang tiap hari aku cumbu pikatnya bersama kopi hitam penuh khayal Tetaplah bercahaya layaknya arti namamu yang terang Tetaplah… Tetaplah kamu begitu Maka aku akan tetap begini .

Gerimis Senja Dan Si Tiada

Gerimis merayu-rayu Cemara mendayu-dayu Angin tipis sembari meraba tak berkutik lumut sopan yang menumpang batu Benalu jatuh Kembang sepatu layu Puteri malu menutup ragu Aku Tunduk lesu di bangku kayu Tertegun lusuh pada batu, benalu, puteri malu Lewat jendela tua penuh debu Wajah siapa itu Di balik benalu Senyum siapa itu Di atas batu Sapa siapa itu Disela cemara mendayu Sukar lupa si istimewa diantara belukar merana Di sudut rasa penuh borok serta luka Seolah ia ada Rumit mengingat lupa Mudah lupa melupa Untuk lupa Wanginya saja Butuh bertahun tahun usaha Kecupnya pula mesti berwindu-windu muara Senyum penuh pesona butuh berabad abad doa Peluknya butuh berjuta-juta tahun yang bahkan cahaya Sukar lupa Yang pergi begitu saja Tanpa sepenggal kata Tanpa potongan sapa Hilang seperti senja Gerimis kian menua Ia sudah tiada Meski tak selamanya Tiada Tetap tiada