Utopia
Bukankah indah
Melihat surya mekar dalam peluk kicau
benda alam
Di depan taman yang kau konsep dengan
gaya Eropa
Menyaksikan gadis kecil tumbuh dengan
ceria
Penuh tanya belajar bahasa
Bukankah indah
Kau kan buatkan aku sarapan kesukaan;
Kuah gedi x tahu tempe goreng extra
sambal terasi
Kau beli langsung dari pabrik kampung
sebelah
Bukankah indah
Hangat rumah kayu minimalis kita
Sebagai hadiah setelah menikah
Yang ku buat bersama salah seorang
rekan setia
Ito Mamahit. Si tampan yang cekat
dalam soal pertukangan
....
Setelah kopi gula merah habis
Aku berangkan ke sawah
Menyaksikan pekerja menabur pupuk
Sambil memberi kabar
Pepadian sehat sentosa
Juni nanti
Panen melimpah
....
Kita nikmati setiap sunset yang datang
Sambil mendengar lagu-lagu kesukaan
Kau `kan sambut aku pulang
Selepas melaksanakan tugas sebagai
Kepala Desa
Menertawai amarahmu yang jarang keluar
Kala little Rocky, jagoan sulung
kebanggaan pulang bermain layangan
Hingga petang tua
Ia akan terbirit-birit dan pergi mandi
setelahnya
Kau kan cerita tentang tetangga
sebelah rumah
Yang akan segera punya bayi laki-laki
Aku akan menggerutu tentang pemerintah
Kabupaten yang tak paham aturan
Dan rasa lega setelah menyelesaikan
konflik warisan tanah antar dua saudara
....
Saat makan malam usai
Sudah jadi kebiasaan
Piano tua pojok ruang harus berdenting
Suara alto akan keluar dari mulut
merdumu
Dengan nada-nada mezzo
Top list Frank Sinatra milikku bergema
Namun hits list Vina Panduwinatmu-lah
yang akhirnya menang
Sekali-kali kita akan melupakan jazz;
Adelle, jika Hasrat untuk meliuk
sedang tinggi
Membuat chord sedikit rumit
Dan Chasing Pavements butuh
extra upaya
....
Hingga seperempat malam akan lewat
Aku akan memelukmu lama
Mematikan lamu
Mengecup kening
Hingga akhirnya kita kan bercinta
penuh gairah
Sambil berharap
Hari esok akan sama
Manado, 8 Maret 2024
B
Comments
Post a Comment